Ujung Rasa
Dua hari ini aku rasa seperti jauh darinya. Pikiran dikepala kalang kabut tak menentu. Aku tak pernah merasakan sakit yang sebegitunya dalam hidupku. Sesalku, mengapa demikian terjadi padaku dengan seorang yang diluar kendaliku.
Menurut quotes Instagram yang berseliweran, Cinta sejati adalah yang paling mampu mengikhlaskan.
Mungkin itu quotes yang harusnya sudah lama aku ikuti. Bukan malah denial dengan yang terjadi.
Tuhan apakah adil denganku?
Membuatku jatuh cinta luar biasa kepada seseorang yang hatinya sudah terisi ikatan suci, yang walau fisik dan mulutnya berkata aku pada belahan hati yang lain, namun sepertinya dipojok akhir setial rasa, hatinya tak bisa berbohong... Penuh dengan cinta untuk normalnya manusia. Dan ku tak pernah ada hak atas hatinya.
Mungkin salah satu cara agar dia tak lagi merasakan sakit adalah dengan melepaskan. Aku bahkan tak mampu lagi melihat diriku sendiri yang sangat begitu naif dan bodoh atas sikap tololku.
Manusia apa hingga sejahat ini?
Berkedok sayang aku memaksakan setiap rasa yang membuat dia terbebani selama ini. Sangat egois jika harus kupaksakan.
Kali ini aku kalah, aku ikhlaskan. Bukan sebab menyerah, namun memerdekakannya dari belenggu sakit yang terdalam.
Aku selalu senang, jika menatap matanya. Mata tajam penuh kasih sayang itu. Mata sayu yang penuh pengharapan kasih sayang. Mata tulus yang menunjukkan betapa banyak pengorbanan yang ia lakukan. Namun, mata itu juga yang membuatku merasa bersalah. Betapa aku sungguh memaksakan rasa yang tak sepatutnya.
Aku selalu bahagia, ketika melihat senyumnya. Terlihat gigi rapi sedikit menonjol seperti gigi kelinci. Senyum yang memikatku pertama kali. Senyum yang membuat hari hariku bersemangat saat melihatnya, walau dilayar kaca. Senyum yang menguatkan setiap beban dalam pundakku selama ini. Senyum yng selalu ingin kulihat setiap saat diwajahnya. Namun, ternyata senyum itu menjadikanku bersalah saat ia pudar tatkala jahatnya ucapanku kepadanya. Tatkala egoku menginginkannya. Dan senyum itu membuatku menggila tatkala tersuguhkan untuk lainnya. Aku pernah berpikir "apakah memang benar katanya, bahwa aku memang tidak tulus menyayanginya?" aku yang tak pernah rela mata lain menatapnya, aku yang tak pernah menerima senyum itu tersuguh untuk lainnya, aku yang tak pernah bisa membebaskan setiap gerak geriknya.
Aku selalu tenang, saat menyentuh bibirnya. Bibir indah yang menjadikanku gila. Bibir yang tersimpan setiap ketenangan dan kenyamanan dalam dekapannya. Bibir yang senantiasa menjaga setiap rasa yang ada dalam jiwa. Bibir yang selalu membuatku merindukannya, dan selalu merindukannya. Namun, bibir itu juga yang menyadarkanku, bahwa setiap apa yang dipaksa, akan menjadi luka keduanya.
Bibir yang membuatku sadar, bahwa tak sepenuhnya bisa kuusahakan, kucintai, dan kumiliki.
Bibir yang menyadarkanku, semakin jauh aku melangkah akan banyak darah dalam setiap sayatan luka hatinya.
Maka kali ini aku berhenti melangkah. Agar mata itu menatap bahagia, senyum indah itu senantiasa terjaga, dan bibir cantik itu selamanya menenangkan sang empunya.
Kau terkadang membuat sebuah masalah namun seakan akan aku yang salah.
Kau putar balikkan cerita seakan akan aku yang tak percaya, nyatanya aku tak pernah ada. Sayang itu memang nyata tapi respect itu tak ada. Kau buat aku seolah menjadi orang yang paling kau sayangi, namun nyatanya ada hati lain yang kau jaga. Kau buat aku merasa terhina dan bersalah atas sikapku, namun benar katamu aku terlalu tolol atas rasaku. Rela menyakiti diriku demi kamu yang menganggapku hanya penghibur lungmu. Sungguh baru kali ini aku menghadapi jatuh cinta pada orang yang salah. Sering, karena kau ingin menghabiskan waktumu dengan orang lain atau malas memenuhi janji semalam. Kamu beralasan aku mencari masalah baru, sehingga kamu bisa bebas atas egomu hari itu.
Aku nggk tau bagaimana cara ku mengungkapkan prasangka benar dari hatiku. Hanya dicap aku salah, aku bikin masalah, dan respectmu tak pernah terlih. Hanya pengorbanan pengorbanan semu.
Seakan akan hubungan ini kamu yang mau. Gila ya, aku memang tak berpengalaman sepertimu. Namun hanya Allah yang tahu. Biarkan, biar Tangan Tuhan yang menentukan.
Berat? sangat... Tuhan jika Engkau mendengarkan aku. Aku ingin segera kembali kedekapanmu. Aku tak pernah bisa pantas dicintai manusia di dunia ini. Akuuu hanya pantas Engkau Cintai. Jadii... Kembalikan segera aku KepadaMu.
Comments
Post a Comment