Posts

Showing posts from January, 2025

Hariku Kepala Tiga

Hari ini hari ulang tahunku ke tiga puluh tahun. Harapku dia selalu berada disampingku. Tuhan memgapa jahat sekali padaku. Kau bangun rasa ini begitu besar, tapi kenyataannya aku tak berhak memupuknya. Kuharap hari ini benar benar menjadi hariku, hari bahagiaku. Tapi ternyata salah. Aku tetap harus sendiri dengan segala kesakitan ini. Bagaimana besarnya cintaku, rasaku, segala effort ku, hatinya hanya satu tuju dan itu bukan aku.  Harusnya dari awal aku tak bermain cinta begitu besar.  Hari besarku yang harusnya menjadi sebuah jembatan penghubung terbaikku dirusak oleh orang orang terdekatnya.  Aku harus sabar, ikhlas dan senantiasa rela olehnya. 

Lagi Lagi

Dengan sebatang nikotin yang terbakar ditemani kunto Aji mengalun. Penenang paling ampuh untuk setiap pikiran pikiran kotor dalam kepala.  Sembari menyadarkan diri bagaimana semesta bekerja untukku. Tenangkan hati setiap itu sudah ada porsinya katanya. Menenangkan hati dan jiwa yang kalut, melawan kenyataan yang memang sudah seharusnya.  Pikiran itu muncul lagi. Meski susah payah melawan setiap ketidakpastian dan kemungkinan yang memang seharusnya terjadi. Aku kalah oleh kepala yang riuh atas kenyataan.  Meski nyatanya aku lelah memikirkannya. Namun ternyata hati dan jiwa tetap kembali lagi. Aku bertahan ditemani setiap selingan kehidupan yang ada diduniaku. Sungguh egois kamu kurasa, tapi yasudah aku mengikuti alurnya. Pesan untuk diriku yang masih saja memikirkan hal tak perlu dalam kepala. Sadarilah, kalaupun apa yang dikepalamu benar terjadi, harusnya kamu sadar bahwa memang begitu seharusnya. Mengapa kamu takut akan hal hal seperti itu?  Segera tidur dan lupakan...

Rasa Jahat Lagi

Lama tak bersua dengan barisan kata demi kata yang menyilaukan hati dan rasa.  Kali ini aku kembali dengan seutas kekesalan sebab gilanya cinta. Tapi kali ini, lebih gila lagi sebab telah tahu ujungnya namun kupaksa.  Aku sudah salah dari awal sebab menaruh rasa yang tak sepatutnya. Harusnya sejak awal aku tak terlalu dalam. Sudah tahu pernah sakit, malah dicoba lagi kali ini.  Sepertinya kali ini aku hanya selingan saat dia sendiri. Terasa, sebab sayangnya hanya karena terbiasa. Bukan sebab mau menerima aku apa adanya.  Hatinya tidak untukku, pandangannya tak dekat denganku, jiwanya tak akan bisa bersamaku, meski raganya bisa bersamaku, meski ucapnya nyata untukku. Cintanya padanya nayata terasa sungguh hebat, membuatku kikuk atas rasaku sendiri. Sngat bodoh memang untukku. Berani-beraninya seperti Rahwana yang mencukik Sinta dari Rama. Tahukah? Meski bertahun-tahun Sinta bersama Rahwana, hatinya tetap untuk Rama. Walau Rama meragukan kesucian Sinta tatakala dia ber...