Posts

Showing posts from September, 2025

Mata Kelembutan

Ku perkenalkan pada sosok dermawan nan indah tak terkira. 2024 aku pertama kali mendekatinya. Sebuah rasa yang tumbuh indah tanpa sengaja. Ia membuka pengalaman pertamaku bagaimana rasanya dicintai sejadi-jadinya oleh manusia. Matanya indah penuh kelembutan, senyumnya merekah penuh ketenangan, wajahnya berseri dengan mulut merekah penuh keseksian.  Tuhan, sungguh bukan kepalang diriku dimabuk olehnya.  Sikap baiknya, saat merengek, saat bermanja menambah rasaku tak bisa berpaling darinya.  Aku sudah gila... Aku sudah kehilangan diriku. Tersedot oleh setiap ucapan manisnya, oleh setiap tingkah konyolnya, oleh setiap masa sakitnya. Aku cinta... aku tak bisa berpaling darinya... Andai aku harus menanggung dosa demi memilikinya, maka aku siap menikmati cinta yang kau cipta dan takdirMu walaupun harus kutanggung kepahitan itu dalam nerakaMu. Ingin rasanya hanya aku dalam hatinya selalu, tanpa ada manusia lain menghuninya selain aku. Ingin rasanya ku miliki seluruh diri indahny...

Semakin Sadar

Malam ini ia datang, hatiku gembira sangat tak terkira. Kau merasa, hatiku menyentuhnya. Beberapa hal yang memenuhi pikiran yang tak kunjung terselamatkan. Harus sampai kapan aku bertahan dan melawan semua ketidakpastian?  Malam ini ia lantang berkata "Mood ku jelek. Dan hanya bisa dengan satu cara. Tapi oleh orang lain" sakit sekali tertancap dihati, hanya dengan itu aku merasa sangat tersisihkan. Lagi lagi tanpa jeda dikepala dan perasaan. Seperti tercabik tak karuan aku dibuatnya. Sejauh apa aku harus menjaga kepura- puraan ini agar dia baik baik saja.  Ternyata, tetap sama aku dimatanya hanya sebuah kerahasiaan saja. Dia tak pernah menjadikanku alasan dihidupnya. Hanya karena menutupiku dari belahan jiwanya, seakan-akan aku tak ada. Menghampiriku dengan mood berantakan, dan tetap saja aku bukan alasan dia berbaikan dengan moodnya yang tak karuan. 

Sadarku

Pada remang malam ini aku mencoba membangun kata yang lama kusimpan. Entah apakah mampu mewakili segala rasa atau hanya sekedarnya.  Sepertinya memang benar, sebuah hati itu adalah organ utuh. Ia tak akan mungkin bisa terbagi. Mungkin rasa kita sama... Namun bedanya, hatiku utuh untukmu, namun hatimu harus terbagi dengan begitu banyaknya kasih.  Walaupun aku tahu, hatimu utuh untuk halalmu. Akankah aku iri? rasa rasanya aku tak pantas melakukannya. Haruskah aku terima? rasa rasanya aku tak mampu melakukannya. Aku selalu bertanya, berapa nilaiku dihatimu jika dibandingkan dengan nilainya dihatimu?  Akankah sama 50 50? ataukah hanya 20 tersisa untukku. Rasanya nyata...  Buktinya? Saat sibukmu, kamu masih meluangkan waktu untuk halalmu. Entah sekedar membalas pesan atau telfon. Saat sedih kau rasa, peetama kali yang kau hubungi adalah dia.  Mungkin benar, cara kita melihat siapa sesungguhnya yang kita cintai yakni siapa pertama kali yang kita ingat saat bersedih. D...