Sadarku
Pada remang malam ini aku mencoba membangun kata yang lama kusimpan. Entah apakah mampu mewakili segala rasa atau hanya sekedarnya.
Sepertinya memang benar, sebuah hati itu adalah organ utuh. Ia tak akan mungkin bisa terbagi. Mungkin rasa kita sama... Namun bedanya, hatiku utuh untukmu, namun hatimu harus terbagi dengan begitu banyaknya kasih.
Walaupun aku tahu, hatimu utuh untuk halalmu. Akankah aku iri? rasa rasanya aku tak pantas melakukannya. Haruskah aku terima? rasa rasanya aku tak mampu melakukannya.
Aku selalu bertanya, berapa nilaiku dihatimu jika dibandingkan dengan nilainya dihatimu?
Akankah sama 50 50? ataukah hanya 20 tersisa untukku. Rasanya nyata...
Buktinya? Saat sibukmu, kamu masih meluangkan waktu untuk halalmu. Entah sekedar membalas pesan atau telfon. Saat sedih kau rasa, peetama kali yang kau hubungi adalah dia.
Mungkin benar, cara kita melihat siapa sesungguhnya yang kita cintai yakni siapa pertama kali yang kita ingat saat bersedih. Dan aku rasa bukan aku...
Aku selalu penasaran, seberapa penting diriku dalam hidupmu. Atau sekedar bergunakah aku dihidupmu?
Rasa cinta atau sayang itu akan perlahan hilang saat kita sudah tak dibutuhkan lagi.
Tak tahu lagi berapa banyak hatiku kuberikan padamu secara percuma namun sepertinya Allah masih menjaga ribuah hati itu padaku.
Aku tak tau lagi apa nama rasa ini.
Comments
Post a Comment