Rasa Jahat Lagi

Lama tak bersua dengan barisan kata demi kata yang menyilaukan hati dan rasa. 
Kali ini aku kembali dengan seutas kekesalan sebab gilanya cinta. Tapi kali ini, lebih gila lagi sebab telah tahu ujungnya namun kupaksa. 

Aku sudah salah dari awal sebab menaruh rasa yang tak sepatutnya. Harusnya sejak awal aku tak terlalu dalam. Sudah tahu pernah sakit, malah dicoba lagi kali ini. 
Sepertinya kali ini aku hanya selingan saat dia sendiri. Terasa, sebab sayangnya hanya karena terbiasa. Bukan sebab mau menerima aku apa adanya. 
Hatinya tidak untukku, pandangannya tak dekat denganku, jiwanya tak akan bisa bersamaku, meski raganya bisa bersamaku, meski ucapnya nyata untukku. Cintanya padanya nayata terasa sungguh hebat, membuatku kikuk atas rasaku sendiri. Sngat bodoh memang untukku. Berani-beraninya seperti Rahwana yang mencukik Sinta dari Rama. Tahukah? Meski bertahun-tahun Sinta bersama Rahwana, hatinya tetap untuk Rama. Walau Rama meragukan kesucian Sinta tatakala dia bertanya "Benarkah kau tak pernah tersentuh Rahwana?" namun nyatanya Sinta rela menjalani sumpah Obong demi menjaga pujaan hati Rama. Orang yang ditakdirkan bersamanya. Tak mungkin berpaling darinya dan tak akan bisa kuambil. 

Akankah tak wajar, jika kecemburuan datang dari seorang yang mencintai dengan segala rasa? Sedari awal harusnya aku sadar bagaimana posisiku seharusnya. Tak etis jika aku terselip diantara rasa rasa indah mereka. Namun tetap saja aku egois kali ini, berharap apa kamu dari sebuah hubungan yang memang berdasar atas kebiasaan.
 
Aku sengaja memaksakan rasaku. Berharap bisa bersatu, berharap bisa bersama. Tapi tak sadar akan nyata, bahwa itu mustahil adanya. Hahahaha....
Lalu sekarang bagaimana? 
Kamu tetap saja sendiri menikmati sepi, menikmati sakit itu lagi. 

Seakan akan kita dibuat terbuai oleh kata katanya, kita dibuat seolah-olah tak ada duanya. Namun ternyata, itu hanya soal terbiasa. Saat dia butuh sebuah rasa memanjakan egonya, dan kita bersedia dengan suka rela, bahkan dengan perasaan sepenuhnya. 

Banyak pujangga berkata bahwa Cinta itu tak akan ada salahnya. Kata siapa? Cinta itu selalu salah dan berdosa sebab ia gila dan membutakan mata hati nyata. 

Comments

Popular posts from this blog

Semakin Sadar

Sadarku

Mata Kelembutan