Sahabat 2
Terhitung 11 tahun ini aku jauh dari rumah. Dari SMP, SMA, lalu kuliah. Ku hadapi di luar rumah. SMP dan SMA ku habiskan pendidikanku di pesantren, yang jelas memiliki prinsip bahwa teman adalah hal yang melebihi keluarga. Iya, walau harta yang paling berharga adalah keluarga. Namun, dalam pengaplikasiannya teman ku lebih tahu siapa diriku. Namun tetap tak terpungkiri IBU ku yang nomer satu.
Bagiku, teman adalah saudara yang tak pernah tergantikan. Dimulai saat SMA, aku sangat banyak menghadapi konflik dengan sahabat ku di masa ini. Banyak sekali konflik hingga suatu hal yang tak akan pernah kamu fikirkan. Disitulah aku merasa, bahwa teman dekat adalah segalanya bagiku.
Iya, itu berlanjut di kuliah. Saat itu aku sangat minder dengan diriku. Berawal dari ucapan kaprodi ku "Yang masuk ke PSTM (pend seni tari dan musik) ini haruslah orang yang mampu mencukupi kebutuhannya guna menunjang skill berkesenian. Yang musik wajib memiliki minimal 1 alat musik yang mendukung skill bermusik kalian". Sangat benar dan memang aku membenarkan pernyataan itu. Entah bagaimana, ucapan beliau seketika menghancurkan seluruh kepercayaan diriku yang hanya seorang mahasiswa Bidikmisi utuh (Mahasiswa dengan jalur masuk bantuan pendidikan siswa miskin). Entah bagaimana kata kata tersebut menghipnotisku untuk segera lari dari tempat tersebut. Entah bagaimana kata kata tersebut menghancurkan seluruh semangat yang sekuat tenaga dengan penuh paksaan kubangun dari awal ku langkahkan kakiku ke kota ini.
Namun, sekali lagi. Aku melihat betapa harus aku mengedepankan harga diri keluarga didepan tetangga. Aku mencoba terpaksa bertahan.
Hari demi hari kulalui dengan sangat terpaksa. Seluruh sikap dan sifatku yang sangat aktif di SMA, seketika hancur dalam sekejap. Aku berubah menjadi manusia dengan kestress an utuh. Aku berubah menjadi manusia yang hidup namun seperti tak bernyawa. Yang kufikirkan, hanya bagaimana cara agar aku bisa keluar dari zona yang tak nyaman ini.
Ditambah lagi sifat sensitif ku terhadap seluruh teman-teman sekelasku yang rata-rata berasal dari keluarga dengan ekonomi ke atas. Dan itu sedikit terasa berbeda bagaimana perlakuan mereka kepadaku. Iya, aku merasa. Entah karena aku terlalu perasa dan sensitif atau memang benar adanya. Aku merasa ketika mereka menyapaku, itu adalah sebuah bentuk 'Kasihan' semata tanpa adanya rasa benar benar tulus berteman denganku. Dan disinilah aku mulai hancur.
Comments
Post a Comment