Sahabat 1

Mungkin terlalu biasa segala hal yang berkaitan denganku. Bahkan kamu mungkin sudah sangat jenuh mendengar tentangku. Hal yang tak begitu penting, yang setiap saat harus kau coba dengarkan walau terlihat jelas kejenuhan diraut mukamu. Kuulangi, aku mungkin bukan tipe orang yang gampang percaya dengan manusia. Aku juga bukan tipe orang yang menyukai sosial lingkungan manusia.
Sekitar 5 tahun lalu, iya mungkin 5 tahun lalu. Aku pertama kali bertemu denganmu saat pembagian konsentrasi antar prodi di gedung E7 fakultas sastra, aku ingat betul raut muka polosmu dengan baju coklat manismu. Aku tak begitu menyadari disitulah Tuhan baik kepadaku.
Malang, kota yang sangat asing bagiku. Tanpa teman, kawan bahkan saudara yang bisa ku ajak sekedar melepas ketakutan di kota jauh dari desaku di Jombang. Tak pernah terbesit sedikitpun aku akan bertahan lama di kota ini. Kuliah yang ku jalani dengan sangat berat hati, bahkan tanpa hati. Dan tak pernah terfikirkan aku dapat melaluinya dengan finish sebagai sarjana seni di kota ini.
Entah bagaiman cerita detailnya, karena hariku seperti hampa tak bertenaga, tanpa mimpi dan tanpa tujuan. Semua kalang kabut, tak beraturan. Yang kufikirkan hanya bagaiman keluargaku tak menanggung malu oleh ocehan tetangga. Iya, aku diterima di Universitas Negeri Malang dengan prodi Seni. Entah bagaimana jalannya hingga Tuhan mengatur semua ini dengan sangat epik tanpa pernah diriku sadari.
Semua berjalan begitu saja. Tanpa ada tujuan, tanpa ada mimpi, dan tanpa ada angan.
Pernah berkali kali aku memutuskan untuk mundur dan menyerah pada asa yang tak pernah aku inginkan ini, namun disinilah cerita ku dimulai.

Comments

Popular posts from this blog

Semakin Sadar

Sadarku

Mata Kelembutan