Sepiku
Setiap pertemuan pasti terpaket dengan perpisahan. Merantau bukan hal yang sulit untukku. Sebelas tahun tak dirumah membuat kedekatan ku dengan keluarga tak begitu baik. Bahkan sekarang ibuku sudah terbiasa tanpa ada aku disampingnya. Karena mungkin menurutnya aku hanya anak yang tak tau malu, yang masih saja mengharapkan belas kasih orang tua. Masih saja minta nafkah kepada orang tua walau usiaku sudah beranjak dewasa, 23 tahun. Aku terus terusan menyusahkan mereka. Tanpa tersadar memang aku tak lagi menjadi anak yang harus selaku dituruti segala kemauanku. Aku bukan anak yang pandai, bukan anak yang selalu bisa mewujudkan apa yang ia impikan. Bahkan anak yang tak bisa apa-apa. Iya, itulah yang sebenarnya terjadi. Tapi orang tuaku selalu menganggap aku lebih, selalu menganggap aku hebat, luar biasa walau aku sangat jauh dari itu semua.
Aku bahkan tau apa yang seharusnya kulakukan sekarang dan seterusnya dengan skill ku yang tak ada satupun yang kupunya.
Sering aku menghardik Tuhan yang mengatur segala hidupku. Aku peraya Ia mengawasiku dan seluruh hidupku. Entah aku punya keluarga atau tidak, bahkan mereka sudah terbiasa andai aku tak ada di dunia. Aku mungkin tak begitu diharapkan kehadirannya oleh orang tua ku. Aku hanya anak yang menyusahkan. Iya.... Menyusahkan. Tuhaaaaaannnn Allaaaahhhhh Engkau mendengarkan kan? 😣😭😣😭😣😭😣
Kenapa semua nilai di dunia ini bertuhan pada UANG?!
Comments
Post a Comment